Rabu, 26 Agustus 2015

Destinasi Wisata Propinsi Termudah di Indoneisa (Kalimantan Utara)



Selamat Datang di Ibu Kota Propinsi Kalimantan Utara
Sungai Kayan
Kalimantan Utara merupakan Propinsi termudah yang dimiliki Indonesia saat ini, yang letaknya berbatasan dengan Negara tetangga yaitu Malaysia.
Saat anda berkunjung ke Tanjung Selor ibu Kota Propinsi Kalimantan Utara, anda tidak ada mendapatkan sambutan ramainya kendaraan yang berlalu lalang, tingginya bangunan pencakar langit dan puluhan jembatan penyeberangan ataupun  jembatan layang, meski kalimantan Utara memiliki sungai yang tak terhitung jumlahnya,  Tapi anda akan disuguhi indahnya panoram alam dan tenangnya arus sungai Kayan, ditambah ramahnya penduduk yang mediami kota ini.
Sinar Jingga di sungai Kayan
Jika anda berangkat dari ibu kota Negara (Jakarta), pesawat akan menurunkan anda sampai di Kota Tarakan (Salah satu Kota di Kalimantan Utara), namun untuk sampai di Tanjung Selor ibu kota Kalimantan Utara   anda akan melintasi laut Kalimantan dan membelah sungai Kayan dengan menaiki Speed Boat. Dalam perjalanan anda akan disuguhi indahnya lukisan Sang Pencipta, pohon yang tertata rapi, selain itu anda akan menyaksikan  ibu-ibu yang mencuci pakain di pinggir sungai dan kebahagian anak-anak dalam menikmati asyiknya berenang bebas di pinggir sungai. Perjalanan dari Tarakan menuju Tanjung Selor ditempuh kurang lebih satu jam lima belas menit.
Sungai-Sungai di Tanjung Selor nampak dari ketinggian
Gunung Putih
Sebelum anda tiba di pelabuhan Kayan Dua, sebagai langkah awal menginjakan kaki di Tanjung Selor, diperjalanan anda akan disambut Gunung yang terlihat Putih (Gunung Kapur) yang tidak terlalu tinggi  juga tidak rendah. Untuk filosofi mengapa Gunung ini disebut Gunung Putih, mungkin karena gunungnya batunya Putih. Gunung putih juga merupakan nama salah satu Desa di Kecamatan Tanjung Palas. Jarak Gunung putih dengan Tanjung Selor  cukup dekat, hanya dengan menaiki perahu kayu (orang Tanjung Selor menyebutnya Tambangan), maka anda akan sampai di pelabuhan ibu Kota kecamatan Tanjung Palas. Dari pelabuhan Tanjung Palas untuk sampai ke Tempat wisata Gunung Putih  bisa jalan kaki jika anda seorang penikmat jalan sehat, tapi juga bisa naik ojek yang hanya bertarif lima ribu rupiah (masih bisa nego, he...).
Untuk sampai pada puncak Gunung Putih anda harus melewati puluhan anak tangga yang cukup menguras tenaga, diiringi suara-suara burung dan khas suara alam, ketika anda sampai pada puncak gunung dan merasakan hembusan angin Sungai Kayan serta menikmati Indahnya kota Tanjung Selor diengkapi aksesoris pohon-pohon nan ijo dan hamparan rumah penduduk, maka anda akan melupakan berapa banyak energi yang anda keluarkan untuk mencapai tempat ini, selain keindahan pemandangan di atas puncak Gunung anda juga bisa memasuki Gua.
Kesultanan Bulungan
Tidak jauh dari Gunung Putih anda bisa mengunjungi Museum Kesultanan Bulungan, disaat anda mulai memasuki MeseumKesultanan ini anda akan terbawa suasana pada kehidupan zaman dahulu, zaman perjuangan melawan penjajah. Anda akan mendapat banyak pelajaran dan hikmah dari koleksi-koleksi barang antik dan foto-foto yang tertata rapi diantaranya barang-barang peninggalan kerajaan tempo dulu, seperti singgasana Raja, tempat mandi maupun barang keperluan sultan sehari-sehari. Termasuk silsilah Para Sultan Bulungan yang pernah berkuasa.
Tugu Perdamaian
    Lima menit anda meninggalkan Pelabuhan Sungai Kayan anda akan mendapatkan sambutan hangat Tugu Perdamaian yang beridiri Kokoh yang terletak di Pertigaan Jalan Sabanar, Katamso dan Sengkawit. Tuguh ini dibangun sebagai simbol kehidupan yang damai antar Suku yang mendiami Kalimantan Utara Khususnya kota Tanjung Selor, dimana di Kota ini berbagai Suku melebur jadi satu dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda satu jua), terbukti pada ujung tuguh Perdamaian ini bertengkar patung yang menyerupai Burung Garuda.  Suku-suku yang mendiami Kota Kalimantan Utara antar lain Suku Bulungan, Dayak, Tidung ( Tiga Suku Pribumi yang biasa disingkat Bultiya), Bugis, Jawa, Banjar, Arab, Tinghoa, dan tak terlewatkan Suku Mandar (Suku yang terdapat di Propinsi Sulawesi Barat, kakak termudah dari Propinsi Kalimantan Utara).
Tugu perdamaian merupakan tempat nongkrong, tempat jogging  atau hanya sebagai tempat melepas kepenatan setelah seharian beraktifitas, karena suasana tugu perdamaian mampu mendamaikan hati yang sedang gundah, gelisah, kecewa, selain suasannya yang nyaman, damai, asri anda juga bisa menikmati Internet gratis yang disediakan Pemerintah Daerah Bulungan sambil menyantap jajanan jagung bakar keju, Gorengan, minuman buble, dan yang unik ice cream pot (beli ice cream dapat bonus pot bunga).

Jumat, 07 Agustus 2015

Episode Perantau



Sahabat-sahabat seperjuangan di Bulungan

Meski cap anak rantau sudah melekat beberapa tahun yang lalu, namun buku tulisan Salim A. Fillah baru kutemukan yang mampu menambah semangat untuk tetap kuat, tegar meski jauh dari orang-orang terkasih dan juga bertepatan dengan pindah tugasnya sahabat kami yang selama empat, lima tahun menjadi sahabat dalam menyelesaikan amanah-amanah Negara, serta menepati janjiku pada seorang sahabat Lidya Putri Utami (maaf buku pinjaman dari seorang teman, tak enak stapet, jadi Lidya Baca disini aja ya!!!!! he..)
Bismillahiroahmaniroahim
Membicarakan Mush’ab Ibn’ Umair yang berhijrah sebagai perintis jalan ke tanah iman Madinah, saya tiba-tiba ingin menyinggung sedikit tentang masalah merantau. Mungkin istilah hijrah terlalu mulia jika dipakai untuk mewakili kata “Merantau”. Kata itu begitu agung. Pada Rasulullah dan para sahabat hijrah adalah pengorbanan yang begitu megiris perasaan. Ini adalah perjalanan yang serba mengambang. Tanpa harapan, tak jelas kesudahan. Yang lemah dan terbiasa menderita tak tahu duka lara apa lagi yang akan mereka terima, apatah lagi yang biasa berkecukupan. Keluarga, rumah yang nyaman, tempat usaha yang prosfektif, semua harus ditinggalkan untuk mengejar ketidakjelasan. Apalagi Madinah bukan tempat yang menjanjikan.
Shuhaib ibn Sinan, imigran Romawi yang gemilang membangun usahanya di Makkah harus meninggalkan sukses yang ia bangun dari nol itu. Ia tak membawa apapun itu  ke Madinah, (Ingat status teman, H-1 ninggalin Bulungan, sedih senang dirasakan, setelah nehsemua dimulai lagi dari nol). Rombongan pengejar Quraisy mencegatnya hingga iapun berkata, “Jika kalian biarkan aku lewat, aku tak peduli lagi akan kalian apakah segala milikku. Itu semua menjadi hak kalian!” Komentar manusiawi ata peristiwa ini tentu berbunyi, “Shuhaib bangkrut!”. Tapi dimensi keimanan ternyata menyusun sebuah kalimat lain di lisan RasulNya yag berbunyi, “Rabiha Shuhaib…Shuhaib beruntung, Shuhaib beruntung!”.
Hijrah juga menyisipkan kisah keberanian tentang “Umar, yang berangkat dengan kata pamit berupa tantangan. Ia tidak seperti orang lain yang berangkat sembunyi-sembunyi. Setelah thawaf mengelilingi Ka’bah, ia berkata di hadapan peuka-pemuka Quraisy, saksikanlah oleh kalian bahwa Ibnul Khathtab akan berhijrah. Siapa yang ingin istrinya menjadi janda, anaknya menjadi yatim atau ibunya meratapi kematiannya, silahkan ia menemuiku sendiri di balik bukit ini!”.
Dibalik ketegaran mereka, Abu Bakar dan Bilal tetap saja Shock ketika tiba di Madinah, Demam tinggi membuat mereka merintih kesakitan. Homesickness, rindu rumah, tetap saja menjadi penyakit yang manusiawi. Abu Bakar pun bersyair,
Kala pagi,
Setiap orang bisa berkumpul dengan keluarga
Namun kematian lebih dekat dari tali
Ketika keberadaan itu disampaikan kepada Rasulullah, beliau pun berdoa, “Ya Allah, buatlah kami mencintai  Madinah ini seperti cinta kami pada Makkah atau lebih banyak lagi. Sebarkanlah kesehatan di Madinah, berkahilah ukuran dan timbangannya, singkirkan sakit demamnya, dan sisakanlah air padanya”.  (HR Bukhari 1/588-589)
Ya, Hijrah adalah pestasi agung generasi pertama ummat ini,. Dalam Al Qur’an, ia disebut Allah dalam kemuliaan dengan diapit dua kata lain yang agung; iman dan jihad. Sugguh jika membandingkan antara merantau yang kita lakukan dengan hijrahnya para sahabat, Ridwahwanullahi ‘Allaihim Jami’I’an. Sungguh tak pantas menjajarkannya. Tetapi Insya Allah, ada suatu hal yang senilai maknanya dalam hijrah yang senilai maknanya dalam hijrah dan merantau. Yakni niat dan upaya kita untu meraih kebaikan dan keberkahan yang lebih banyak.

Jumat, 19 Juni 2015

Aku dan Sahabat dalam Balutan Cahaya Senja


Senja
 Tak ada yang menampik akan keindahanmu
Pesonamu mampu menakjubkan hati pencintamu
Sentuhanmu meluluhkan jiwa yang lagi membenci
Ronamu melapangkan hati yang sempit
Sinarmu menenangkan hati yang gundah gelisah
Desiran angin yang membersamaimu membawa pergi jauh akan kepenatan
Senja, memang tak dapat kurai, tak dapat kugenggam
Tap iya mampu memberi makna dan rasa dalam jiwaku.

Sahabat ibarat Senja yang Indah
Senyumnya  mampu menenangkan hati yang gelisah
Lisannya mengingatkan akan kesyukuran Nikmat yang dianugerahkan Sang Pencipta kepada diri
Tatapannya melambungkan mimpi seindah Senja
Bersamanya ada rasa nyaman, ada kenikmatan iman
Ianya mampu menarik diri tatkala hendak terjatuh
Sahabat obat penawar tatkala rindu begitu membuncah
Sahabat bagai bara api yang mampu membakar semangat untuk melakukan perubahan diri dan memberi manfaat pada kehidupan

Sahabat
Doaku doamu dalam Lantunan Robitho semoga mampu mengikat jiwa kita yang tak hanya saat ini tapi nanti tat kala raga tak lagi bersua, tatapan tak lagi memandang.
Sahabat, semoga Allah memudahkan jalanmu dan jalanku untuk meraih mimpi kita,  
Sahabat, semoga persahabatn ini abadi hingga jiwa telah kembali kepada pemilikNya, dan semoga Allah memberi karunia untuk kita duduk di alun-alun SurgaNya dan bercerita tentang masa-masa yang terlewati bersama, Aamiin..


 Tanjung Selor, Kota Ibadah



Minggu, 03 Mei 2015

Rezeki Datangnya Dari Arah Yang Tak Disangka-Sangka




Rezeki Datangnya Dari Arah Yang Tak Disangka-Sangka
Bersama Bapak Ir. Pitono, M.Si  (Kepala Biro Umum Badan Pusat Statistik RI)
    Hari ini mentari mulai meninggi, diikuti riuhnya suara kendaraan yang lalu lalang, para abdi negara mulai memacu kendaraan masing-masing hanya untuk sampai di kantor tepat waktu agar tidak terlambat yang akan mengakibatkan terpotongnya Tunjangan Kinerja (Yang lagi In diperbincangkan, tak terkecuali Insan Statistik juga dihebohkan dengan tunjangan kinerja ini).


Bukan suatu kebetulan, Allah mengirimkan sosok Pemimpin yang memiliki Jiwa mengayomi, mengharahkan,  mendidik, memberi semangat dihadirkan ditengah-tengah kami (pegawai BPS Kab. Bulugan) yang memang lagi membutuhkan Sport dari orang-orang yang memiliki pengalaman dan semangat juang yag tinggi.
Bapak Ir. Pitono M.Si, Beliau seorang Kepala Biro Umum di BPS RI memiliki gaya bahasa yang santai, tegasa, namun nasehatnya begitu mengena di hati.
Diawali dengan perkenalan beliau, Mulai dari Nama,  keluarga, perjalanan karier di dunia perstatistikan, bahkan kisah perjalanan hidup yang penuh tantangan namun selalu mendapat jalan keluar dari setiap ujian kehidupan.
     Satu hal pertama yang bisa saya simpulkan diawal pengarahan beliau, bahwa “setiap kesuksesan selalu dibarengi dengan kerja keras, semangat dan pantang menyerah (jatuh bangun)”
Meski tujuan beliau berkunjung ke BPS Bulungan bukan untuk memberi pengarahan, apalagi sebagai seorang motifator, tapi bagi saya dan kawan-kawan di BPS Bulungan, kehadiran beliau bagai titik embun membasahi bumi dimusim kemarau.
     Ketikan berhubungan dengan orang lain, maka dipastikan akan ada Pro kontra, ada yang suka, tidak suka, bahkan ada yang berpura-pura setuju di depan tapi dibelakang beda,  hal ini tidak bisa kita hindari karena setiap orang memiliki hati dan pikiran masing-masing, apalagi terkait dengan kebijakan (menurut beliau, kebijakan itu sudah pasti menyeleweng dari aturan), kebijakan diambil karena kondisional dan hal ini pasti ada perbedaan penafsiran, namun jangan bingung dengan orang yang tidak setuju, karena hal ini adalah sesuatu yang pasti, ada yang setuju dan tidak setuju. Itulah awal dari pengarahan beliau.
Beliau bercerita tentang bagaimana penilain orang terhadap apa yang dilakukan seorang bapak dan anak, ceritanya cukup menarik, disuatu siang yang terik, berjalanlah seoarang bapak dan anak lelakinya beserta kuda kecil peliharaan mereka, di tengah perjalanan sang bapak dan anak merasa kelelahan, akhirnya sang bapak seoarag diri menunggangi kuda kecil mereka, kemudian orang yang melihat kondisi ini berkata “kok, bapaknya  tegah nian membiarkan anaknya berjalan sedangkan dia sendiri asyik duduk menunggangi kuda mereka”, karena mendengar ucapan orang yang melihat kondisi mereka akhirnya sang bapak turun dari kudanya dan mempersilahkan sang anak untuk menggantinya menunggangi kuda, namun tak disangkanya sosok yang melihat mereka dengan entengnya mengatakan, “anak kok sungguh tidak sopan, membiarkan orang tua berjalan, sedangkan dia asyik menunggangi kuda”, karena tidak ingin sang anak dikatai anak tidak sopan, akhirnya sang bapak kembali menaiki kuda dan duduk di belakang sang anak, tidak lama mereka menunggangi sang kuda kecil mereka,  suara sumbang kembali terdengar, jadi orang kok sungguh tidak punya peri kehewanan, kuda kecil diberi beban yang begitu berat, tanpa piker panjang akhirnya sang bapak dan anaknya turun dan menggendong kuda peliharaan mereka sambil berjalan, namun hal ini tidak terlepas dari omongan orang lain, malah bapak dan anak dianggap orang yang lagi sakit jiwa. 
Ya….. kembali lagi, setiap yang kita lakukan, baik itu baik, tidak baik, pasti ada yang tidak setuju, itulah kehidupan.
     Jangan pernah merisaukan rezeki Karena dia pasti akan datang, kata beliau Rezeki itu datangnya dari empat penjuru,
Yang pertama, beliau menyatakan bahwa "kebutuhan dasar”  merupakan Rezeki karena  meskipun seseorang tidak bekerja maka Allah akan tetap memberinya rezeki, misalkan seorang kakek tua yang sudah tidak mampu bekerja dan tidak memiliki keluarga, maka Allah yang menjamin rezekinya

Rabu, 29 April 2015

Gadis Manis Anak Mami



   
      Hari sudah beranjak sore, matahari beredar menuju barat hendak kembali keperaduan, Seharian tenaga terkuras hingga badan terasa lemah tak berdaya, namun dalam lingkaran kecil yang tiap pekan kami lakukan memberiku motivasi yang seakan mendobrak semangat untuk berbuat yang lebih banyak, katakata itu seakan menyetrum aliran darahku hingga ia berdesir kencang, kata motivasi yang keluar dari seoarang wanita berumur duapuluh tahunan.
     Dia bercerita tentang hidupnya, bagaimana dia menjadlani hari-harinya, bagaimana kecemburuan dalam dirinya kepada orang lain untuk bisa menjadi yang terbaik seperti halnya orang lain, dia tidak cemburu karena materi yang diperoleh oleh orang lain tapi dia cemburu akan kesempatan orang lain untuk menambah keilmuan, pengalaman dan kecintaan kepada Allah sang pemilik hati.
Dia anak tunggal dari pasangan yang cukup protektif, sehingga  aktivitasnya begitu dibatasi, karena kehawatiran anaknya lelah, capek, setiap aktivitasnya harus diketahui oleh orang tuanya, siapa temannya, apa kegiatan semua harus terlist dalam daftar kontrol orang tuanya  namun demikian dia begitu dimanja oleh kedua orang tuanya.
     Hari itu dia bercerita bagaiamana perasaannya ketika dia berumur dua puluh tahun, tercatat sebagai pegawai honorer pada sebuah sekolah menengah di daerahnya, setiap hari dia harus berangkat lebih awal dari karyawan lainnya karena dia harus mencuci piring, menyapu lantai, merapikan meja, menyiapkan minum bagi karyawan-karyawati. Setelah para karyawan lainnya datang dia harus membantu administrasi, dimintai tolong ketik ini, antar ini dan itu dan banyak lagi tugas lainnya, , begitupun saat hari mulai sore karyawan lainnya sudah kembali ke rumah masing-masing namun dia tetap berjibaku dengan tumpukan piring, kotornya lantai dan berhamburannya

Sabtu, 11 April 2015

Resolusi Diri


    Azzam yang kuat akan melahirkan semangat yang besar.
Mari melakukan resolusi dalam kehidupan, mari berbuat baik, mari memberi manfaat pada orang lain, infaqan diri di agamanya Allah,
Jauhkan diri dari hal2 yang tidak bermanfaat.
Jangan pernah punya fikiran negatif terdapat suatu hal, kita memang tidak akan pernah menghindarkan diri pada hal2 yang bisa menyakitkan hati, tapi tetaplah berusaha menghapusx, jadikan luka itu bagai tulisan di pinggir pantai, tertulis dan akan hilang terbawa ombak entah kemana.
Iya, jadikanlah perih seperti itu, tertulis sejenak dan akan pergi terbawa kemana ombak membawanya.
Jangan pernah membenci suatu hal karena yang kita tidak sukai belun tentu tidak baik untuk kita, karena sesuangguhnya hanyalah Allah yang tahu mana yang baik untun kita, dan Allah pasti akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan, karena sesunggugnya keinginan itu kebanyakan datangnya dari hawa nafsu.
Allah itu sungguh maha pengasih, bukan hanya mengasihi orang-orang yang beriman, tapi juga mengasihi orang-orang non muslim, namun kita harus tahu bahwa Allah hanya akan menyayangi orang2 yang beriman, so lau kita tidak mau hanya dikasihi Allah tapi juga disayangiNya, mari bersama senantiasa memperbaiki diri, meningkatkan keimanan kepada Allah SWT, meski kita tahu keimanan manusia akan selalu mengalami fluktusi naik, turun, naik, turun, naik...

"Nasehat Sorang Guru yang Cantik, Anggun dan baik hati"

Senin, 23 Maret 2015

Jilbab Is My Life



“ Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasanya adalah wanita shalihah”
Iinilah salah satu sabda Rasulullah bagi kaum wanita, Wanita adalah sebaik-baik perhiasan dunia, lalu apa yang akan kita lakukan pada perhiasan yang kita miliki? Perhiasan haruslah disimpan, dirawat dan dijaga sebaik mungkin agar tetap memliki nilai dan pesona yang tak pernah pudar.
Secara khusus Allah SWT menuliskan firman-Nya dalam Qura’an Surah Al Ahzab : 59
“Hai Nabi, katakanlah kepad istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri  orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah  adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.”
Allah SWT begitu menyayangi wanita sehingga diturunkan ayatnya agar wanita mengetahui bagaimana cara menjaga dirinya agar terhindar dari gangguan.
Saat jari ini menari di atasa keyboard notebook berukuran 10 inch tiba-tiba ingatan saya kembali kemasa-masa dulu dimana awal mulanya saya menggunakan penutup kepala (kerudung), saat itu saya duduk di kelas satu SMA, kala itu jilbab menurut saya hanya sebuah trand dan alat agar terhindar dari panasnya matahari, terbukti ketika di setiap ada acara exscool saya jarang memakai kerudung, artinya pakai kerudung hanya pada jam sekolah saja. Dan hal ini berlangsung sampai duduk di bangku kuliah, ke kampus pakai kerudung, keluar dengan tujuan lain sering buka kerudung.
Suatu waktu Allah SWT memberikan peluang masa depan yang lebih baik, namun untuk mendapatkan semua itu perlu usaha dan do’a untuk bisa mendapatkannya, hingga tak sadar saya bernazar “Jika saya lulus dalam ujian ini maka Insya Allah saya akan selalu memakai jilbab”, kala itu pemahaman saya tetntang jilbab hanya sekedar menutup rambut dan seluruh badan tanpa memperhatikan apakah pakaiannya ketat, ataupun transparan,  yang  jelasnya jilbab menutup rambut sampai dada.

Jumat, 20 Maret 2015

Assalamu Alaikum Long Bia ( Peso)



Sejak lima tahun yang lalu akhirnya bisa berkunjung lagi, bersua dengan penduduk Hulu Sungai Kayan di Tanah Peso.
Hari ini mentari mulai menyingsing, kami lima sekawan dalam satu tim menaiki speed boat membela sungai kayan menuju Tanah Peso, disetiap perjalanan yang ditempuh menyuguhkan pesona alam yang sangat memukau yang tidak bisa dituliskan dengan kata-kata.
Pepohonan ijo berderet rapi di sepanjang Sungai yang kami lewati, bukit-bukit ijo nampak berlapis-lapis menambah kecantikan lukisan Ilahi, kencangngnya angin tidak menyurutkan semangat kami.
sekitar satu jam meninggalkan bumi Tenguyun kami berhenti beristirhat sejenak untuk merenggangkan persendian yang mulai kaku.
Perjalanan akan kami tempuh kurang lebih 3,5 jam, semakin ke Hulu, semakin menguji adrenalin, karena selain hempasan speed yang berpapasan, arus sungai mulai terasa kuat, namun keindahan panorama alam tetap setia menemani setiap tarikan mesin speed.
Tidak terasa waktu 3,5 jam menikmati suguhan alam Sungai Kayan telah kami lewati, saatnya menyapa Penduduk Peso "Assalamu Alaikum Peso"
Kedatangan kami disambut sebuah tugu yang berdiri kokoh dengan ukiran khas batik Dayak "Selamat Datang di Kecamatan Peso"
Panas matahari mulai menyengat kulit, jam di tangan telah menunjukan angka dianta 11 dan 12 menandakan bahwa hari sudah menjelang siang, siang kini telah menyapa panasx kian membakar semangat kami untuk menyelesaikan amanah negara yang masih bertengger di pundak.


Sebelum melakukan door to door kami terlebih dahulu bersilaturahmi keaparat desa setempat, sebagai langkah awal untuk mendapatkan informasi warganya sehingga nantinya memudahkan dan efisiensi waktu, berhubung hari ini kami harus kembali ke Tanjung Selor.
Misi kami lanjutkan dengan mendatangi door to door, dan kami satu timpun harus menyebar agar tugas bisa selesai sesuai target.

Kamis, 05 Maret 2015

Bahagia Itu Simple

Bahagia itu ketika kita dapat tersenyum tanpa ada beban.
Tidak mengeluhkan dengan apa yang menjadi takdir dariNya, tapi mensyukuri setiap anugerah yang bisa kita nikmati setiap saat.
Setiap nikmat yang menjadi jatah setiap orang tidaklah meleset pembagiannya, takarannya sudah pas.
Bahagia itu semangat, ketika diri selalu mencurahkan hati, perasaan, permasalahan kepada Sang Khalik dan diri mampu menjalankan sunah-sunah Baginda Rasulullah Muhamad Saw,  (kata guruku)
Bahagia itu ketika melihat senyum orang-orang yang kita cintai dan lebih bahagia lagi jika senyum yang terukir di bibir mereka itu hasil goresan tangan kita.
Bahagia itu kebersamaan, ketika bersama, berjalan, beriringan dengan orang yang mengerti, mau dan mampu saling memahami kondisi, saling berbagi cinta dan kasih karena Allah SWT, (For best friends).

Rabu, 04 Maret 2015

Banyak Langkah Banyak Cerita

Mentari mulai keluar dari singgananya untuk menjalankan tugasnya memberi cahaya pada setiap mahluk, 
kabut beriringan meninggalkan awan yang mulai disinari sang mentari, 
embun bertetesan meninggalkan dedaunan membasahi bumi yang mulai kering,
 kicauan burung mulai tak terdengar digantikan gemuruh suara mesin kendaraan.
Singsingan mentari membangunkan tubuh yang mulai menyerah pada rasa malas, namun masih terselamatkan akan rasa berpetualang.
Meski masih lemah lunglai kucoba mengumpulkan tenaga yang berceceran. 
Ada keindahan, kenikmatan pandangan, kebahagian yang menunggu yang harus kucecar untuk mengisi memoriku ini.
Yang jika Allah memberiku kesempatan,
Akan kuceritakan pada dunia di hari tuaku kelak. Aamiin