Selasa, 27 Februari 2018

Susenas Selalu Punya Cerita

Walau Survei Ekonomi Nasional ( Susenas) Merupakan survei BPS yang rutin dilaksanakan setiap Semester ( Susenas Maret dan Susenas September), namun pamor survei ini tidak pernah dibawah rating lima survei senaisonal, macam film aja ye, he...

Hari ini Senin, tanggal 19 Februari 2018, merupakan hari pertama updating Susenas di seluruh Indonesia, walau hujan menghiasi senin pagi ini, namun tidak mengurangi semangat kami untuk turun melakukan updating, pengawasan dan supervisi door to door, semua bergerak menuju wilayah kerja masing-masing.

Karena hasil pre printed wilayah saya merupakan hasil updating SP 2010, maka dalam jangka waktu kurang lebih 8 Tahun, banyak sekali perubahan pertumbuhan penduduk, banyak tambahan rumah tangga baru, rumah tangga pindah, meninggal.

Sebagai tim supervisi dari BPS Kabupaten pimpinan megingatkan untuk menemani petugas sampai updating satu blok selesai, namun karena banyaknya responden yang bekerja di sektor pertanian/ bekerja di kebun sore bahkan malam baru kembail ke rumah tidak memungkinkan saya untuk mendampingi sampai selesai, semoga pimpinan bisa memaklumi.

Setiap saya turun ke lapangan, bertemu langsung dengan masyarakat, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik, kali ini, karena wilayah kerja kali ini di Desa, maka warganya begitu well come  memberikan data, tidak ada kendala dalam mendapatkan informasi.

Kali ini saya bertemu dengan rumah tangga dengan jumlah ART dua digit, dengan ukuran rumah yang sangat minimalis, beralas tanah, berdinding potongan kayu, dengan kamar hanya satu saja, ketika saya melihat kondisi ini, hati saya begitu malu, kadang tidak bersyukur dengan nikmat yang dianugerahkan Allah, bayangkan bagaimana mereka bisa tidur dengan kondisi seperti ini, belum lagi pasti untuk konsumsinya sangat-sangat sederhana.

#Janganlupabersyukur
#PerempuanBPSMenulis
#15HariBercerita
#HariKe4
 

Senin, 19 Februari 2018

Ibu Bekerja, LDR Suami



Hidup adalah pilihan, ketika seorang ibu memutuskan untuk bekerja, maka waktu bersama anak sudah pasti akan berkurang, bekerja dari pagi sampai sore (minimal 8 jam sehari) meninggalkan anak dengan orang lain, kalau anak ditinggal bersama ibu/mertua atau saudara, mungkin tidak begitu kepikiran, tapi kalau anak ditinggal dengan orang lain, yang sebelumya kita belum kenal, karakternya, latar belakang keluarganya seperti apa, seorang ibu pasti akan sangat kepikiran, apalagi jika anak termasuk anak yang aktif, sudah pasti akan menyibukannya, jika tidak sabar maka bisa saja melakukan hal yang  tidak diinginkan.

Terkadang orang lain yang melihat ibu bekerja itu ibu yang tidak mau bertanggung jawab, tidak sayang anak, tidak mau direpotkan, dan banyak lagi omongan orang...

Namun harus diketahui bahwa seorang ibu bekerja itu ibu yang lebih mengefektifkan waktunya, mereka bangun lebih pagi (bangun lebih awal jika dibandingakan sebelum menikah atau sebelum punya anak), ibu bekerja berpagi-pagi menyiapkan kebutuhan anak, memasakan , menyuapinya makan, kasih mandi, menyiapkan kebutuhannya sehari itu, baru setelah itu baru mengurus diri sendiri, apalagi jika LDR dengan suami.

Seorang ibu yang bekerja, jika di kantor sejatinya fisiknya di kantor tapi fikirannya terarah pada anak, sedang apa dia, menangiskah, dan kegelisahan lainnya.

Ibu bekerja, setelah ia pulang ke rumah, harus kembali mengurus semuanya, sampai anak terlelap barulah dia juga bisa menyandarkan badan. 

Seorang ibu, baik dia ibu yang bekerja ataupun ibu rumah tangga, sama-sama ibu yang hebat, karena sejatinya ibu adalah sosok yang selalu mengutamakan anak daripada dirinya, mengorbankan

Selasa, 06 Februari 2018

Aisyah Trip 1 “Pulau Bokori”




Pulau Bokori merupakan salah satu destinasi wisata di Sulawesi Tenggara yang terletak di Kabupaten Konawe, pulau ini lebih dekat ke ibu kota Kendari daripada ibu kota Kenawe (Unaaha).
Dulunya pulau Bokori didiami oleh masyarakat Ssuku Bajo, namun karena abrasi warga dipindahkan ke daratan.
Untuk sampai ke Pulau Bokori, dari daratan Soropia kita harus naik perahu kecil bermuatan ±10 orang, dengan waktu ±10 Menit dengan biaya 15.000 rupiah.
Aisyah, bayi kecil yang baru berusia 4 bulan tidak mau ketinggalan traveling ke Pulau Bokori, dalam kesempatan itu sekaligus liburan hari lebaran Idul Fitri 1438 H .
Pulau Bokori menyuguhkan keindahan alam yang sangat mempesona, pasir putih, kejernihan airnya, ditambah lambaian daun kelapa menambah keindahannya.
Banyaknya gasebo yang bisa dijadikan tempat menikmati santapan makanan, menikmati es kelapa, juga bisa sambil bakar-bakar ikan.
Selain gasebo, juga disediakan villa, ruang rapat, jadi pulau ini juga biasa digunakan oleh perusahaan, intansi pemerintah, mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan seperti Family gathering, Raker, Munas, ramah tamah, dll. Bagi yang menyukai mancing, juga disediakan tempat untuk menyalurkan

Senin, 05 Februari 2018

KSA, Cerita Pejuang Data Pangan Yang Lebih Baik



Gong Start Survei KSA
Salah satu petugas mencari titik melewati Rawa
Ruang yang semula sepi tiba-tiba menjadi riuh, semua orang dengan antusias dan hebohnya menceritakan pengalaman melakukan pencacahan KSA ke sawah bahkan ke hutan.
Tepat pada tanggal 25 Januri 2018, gong start survei pengumpulan Kerangka Sampel Area atau lebih dikenal dengan Survei KSA dimulai, setiap petugas turun ke sawah, mencari titik koordinat yang telah ditentukan oleh sistem Aplikasi yang telah dirancang siap pakai oleh pegawai BPS Pusat, PCL didampingi oleh para PML dan supervisi dari BPS Kabupaten, semua turun ke lapngan, sehingga semua punya cerita.
Semua petugas, PMS, Supervisi berpencar menuju wilayah tugas masing-masing, ada yang sudah dari kemarin meninggalkan Kantor BPS Kabupaten Konawe karena jarak tempat tugas yang jauh, untuk sampai disana butuh waktu berjam-jam.

Demi Si Merah Rela Masuk Dapur Warga
Dimulai dari cerita mbak Nita, Supervisi pengumpulan survei KSA di Kecamatan Lambuya, dalam mencari kesembilan titik koordinat tidak ada kendala karena kondisi wilayahnya memang termasuk daerah yang  dekat dengan pemukiman, namun karena dekat dengan pemukiman, disitulah kehebohannya, mencari satu titik mengelillingi salah satu rumah warga, sampai harus masuk ke dapur warga untuk mengambil photo sebagai bukti wajib yang harus ada, agar satu segmen bisa diupload, kebayangkan bagaimana lucunya, harus minta izin ke warga untuk masuk ke rumahnya kemudian mengambil gambar, untung yang empunya rumah tidak keberatan dapurnya diphoto trus dikirim ke Jarakta, he.....
Selain cerita mbak Nita, adalagi cerita Yuni yang bercerita kehebohannya, harus turun ke sawah dengan matahari yang panas sekali, lunturlah bedak mahal, sia-sia mengeluarkan uang untuk perawatan selama berbulan-bulan, akhirnya harus hitam dalam sehari, tanggal 25 Januari tanggal kenangan, he... selain cerita lunturnya bedak dan sia-sianya perawatan, dia juga bercerita bagaiman dia tidak mau mengikuti petugas masuk ke hutan mencari titik koordinat di segmen ke-dua yang titik-titik koordinatnya terletak di hutan, dia khawatir tidak menemukan jalan untuk keluar, apalagi dia hanya berdua dengan mas petugas KSA. Sampai jam 17.00 Wita masih di lapangan menemani petugasnya, (S.a.l.u.t) Salut dah sama semangatnya....

Wanita Tangguh Penakluk Hutan, Lumpur, Sungai
Kalau ini cerita tentang si ibu tangguh, walau sebenarnya banyak ibu-ibu tangguh di BPS Konawe namun kali ini saya akan menceritakan ibu tangguh bernama Muliani Kadir, dari ceritanya, melaksanakan survei pengumpulan KSA, merupakan survei yang butuh tenaga ekstra, karena di wilayah dia bertugas merupakan daerah yang segmennya berada pada titik-titik yang sulit, untuk mendapatkan satu segmen dia harus melewati rawa-rawa sungai Konaweeha yang membatasi Kec. Besulutu dan Kabupaten Konawe Selatan yang terkenal dengan adanya buaya yang berdiam di sungai itu.  Sedangkan segmen di Desa Baini Kecamatan Sampara sebagian subsegmennya ada di gunung sebagian di jalan aspal, salah satu segmen di Kelurahan Besulutu Kec. Besulutu berada di Areal perusahaan perkebunan Kelapa sawit PT. Utama Agrindo Mas, bisa kita bayangkan bagaimana sulitnya masuk ke area perkebunan kelapa sawit, pagarnya pasti penuh dengan duri dan kemungkinan besar banyak ular yang berkeliaran disana (wahai pemerintah, pengguna data dan yang meragukan data BPS hargailah data yang dihasilan oleh petugas BPS karena untuk mendaptkannya mereka harus menghilangkan ketakutan,  mempertarukan nyawa, padahal ada keluarga yang ditinggalkan di rumah).
Jalanan yang dilalui untuk mendapatkan si titik merah
Lanjut cerita si wanita tangguh, Kegagalanya mendapatkan si titik merah di Desa rumbia kec. Bondoala karena tidak bisa diakses dan hanya ada jejak babi dan tidak ada jejak manusia dengan jalanan penuh lumpur, tidak serta merta melemahkan semangatnya walau sempat menciutkan nyalinya karena takut, tapi karena tugas negara, satu kewajiban yang harus dijalankan dan diselesaikan jadi harus tetap jalan, tiada kata menyerah.
Dari hasil akhir perjuangannya beberapa hari menyusuri hutan, rawa, gunung, jalanan belumpur, sungai, dari ketujuh Segmen tak satupun yang terindikasi sawah, jadi bulan depan harus ganti sampel dan pastinya harus berkeliling lagi mencari titik-titik koordinat sub segmen.  
sedihnya tuh disini (Sambil tunjuk hati)
tapi harus tetap semangat!!!!!!!