Selasa, 27 September 2016

HSN 2016 BPS Bulungan "Kerja Nyata dengan Data"


 Sinar pagi ini tidak secerah biasanya, mentarinya bersembunyi dibalik awan hitam, menjadikan hari ini mendung, namun hal demikian tidak menghilangkan bahkan tidak mengurangi semangat kami untuk melaksanakan apel Hari Statistik Nasional 2016, dan hal ini dilaksanakan oleh seluruh insan BPS di seluruh penjuru Nusantara.
Tepat jam 08.00 Wita, kami merapikan barisan sesuai komando yang dipimimpin oleh sahabat kami Muhammadsyah.
“Pembina apel memasuki lapangan apel”

“Menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan Mars Statistik”  
Seluruh peserta apel menyanyi dengan semangat dipimpin oleh dirgen Tiara Kusuma Widiyaningrum, S.ST, agar pembaca tau bagaimana gambaran semangat Insan Statistik dalam mendedikasikan diri untuk negeri, jadi saya coba tulis disini ya...
Mars Statistik

Kami insan statistik
Penuh cita mengabdi
Untuk bangsa dan negara tercinta

Kami Profesional,
Kami Berintegritas
Kami Amanah
Itulah janji kami pada negri

Statistik untuk bangsa
Bangkitlah Indonesia
BPS terpercaya dalam data

Bangkitlah Indonesia
Majulah Indonesia
Siapkan dirimu putra bangsa
Berkarya dengan data
'Tuk Indonesia Jaya
Dengan data kita bangun negara

Bangkitlah statistik
Langkahkanlah tekadmu
Wahai putra bangsa yang tercinta
Berkarya dengan data
'Tuk Indonesia Jaya
Bergandeng tangan membangun
negara
 Bergandeng tangan membangun
negara


Protokol membaca lanjutan susunan acara
“Amanat pembina apel”
disampaikan oleh bapak kepala BPS Kab. Bulungan Maibu Barwis Sugiharto, S.ST, M.Si
Seluruh peserta apel diistirahtkan, dan pembina apel memulai arahannya, namun dalam arahan pembina, beliu hanya menyampaikan sambutan bapak kepala BPS RI, dalam sambutannya berisi:

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua

Uniknya Pawai Malam Lebaran di Ibukota Kalimantan Utara (Tanjung Selor)

Pawai Kapal Di Sungai Kayan


         Malam ini Tanjug Selor tidak seperti biasanya, ada yang berbeda dari malam malam sebelunya, warga mulai dari yang muda sampai tua berbondong bondong menuju siring (pinggir  sungai Kayan), tidak ada yang mau melewatkan momen yang unik yang diadakan sekali setahun, tepatnya pawai kapal di sungai Kayan pada malam lebaran Idul Adha.
         Keunikan  pawai seperti ini hanya bisa ditemukan di Tanjung Selor dan ini sudah bertahun tahun dilaksanakan. Tidak hanya unik, pawai ini membawa kita  mengagungkan Allah SWT, bahkan pawai ini membawa kita merasakan suasana beribadah di Tanah Suci Mekkah, bagaiman tidak kapal kapal pawai dihiasi dengan ornamen Arabian yang unik, membuat kotak hitam menyerupai Ka’bah sambil beberapa anak berputar dengan mengelilingi dengan menggunakan pakaian seperti jamaah haji yang sedang Tawaf. Diantara kapal kapal itu ada juga yang membawa bedug diiringi irama takbir, yang menghanyutkan perasaan dan tidak akan menyadari tetesan air akan keluar dari kelopak mata.
Lampu yang menghiasi kapal akan menyinari gelapnya malam dan pantulan cahaya dari air sungai Kayan begitu memanjakan mata seluruh warga Tanjung Selor yang ikut menyaksikan pawai ini. Saya yakin, kesedihan, keletihan, kegalauan hati  akan sejenak terbawa oleh derasnya arus sungai Kayan.
          Penasaran dengan keunikannya, silahkan berkunjung ke ibu kota Kalimantan Utara pada setiap malam tanggal 10 Dzulhijh (10 Arafah).

Tanjung Selor, 11 September 2016

Kamis, 15 September 2016

Sayyang Pattu’du Tradisi dari Tanah Mandar (Sulawesi Barat)



Mandar adalah salah satu suku yang mendiami pulau Sulawesi khusunya di Propinsi Sulawesi Barat,dimana di Propinsi Sulawesi Barat suku Mandar yang mendiami hampir 50% dari populasi penduduk Sulawesi Barat.
Sulawesi barat merupakan anak dari Sulawesi Selatan, dimana pada tahun 2014, Sulawesi Barat memutuskan untuk melepaskan diri dari induknya, berusaha berdiri sendiri. Sejak saat itu Sulawesi Barat mulai meniti langkah untuk berkembang dan maju.

Sayyang Pattu'du (Kuda Menari)
Mandar adalah suku yang memiliki tradisi yang tidak kalah dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia, diantaranya Sayyang pattu’du (hanya ada di Mandar), Parrawana (main rebana), pakkalindaqda, Perahu Sandeq.

Tradisi Sayyang Pattu'du atau "kuda menari" adalah tradisi syukuran terhadap anak-anak yang berhasil mengkhatamkan Alquran sebanyak 30 juz.
Parrawana (Pemain Rebana)
Syukuran itu dilakukan dalam bentuk arakan keliling kampung dengan menggunakan seekor kuda yang menari di bawah lantunan irama para pengiring Parrawana (tradisi memainkan rebana, Kegiatan ini dilakukan setiap ada acara pesta perkawinan ataupun khataman Alquran), selain iringan parrawana, akan terdengar juga kalindaqda (tradisi yang dilakukan orang Mandar berupa penyampaian perumpamaan saat hendak menyampaikan keinginannya kepada seseorang. Biasanya penyampaian itu berupa sindiran-sindiran yang bisa membuat lawan bicara tertegun. Kalindaqdaq juga terkadang bernuansa sebuah puisi, rayuan kepada wanita, dan bahkan terkadang juga berisikan motivasi atau semangat kepada pejuang pada masa perjuangan perebutan wilayah kekuasaan para raja di tanah Mandar).