Rabu, 29 April 2015

Gadis Manis Anak Mami



   
      Hari sudah beranjak sore, matahari beredar menuju barat hendak kembali keperaduan, Seharian tenaga terkuras hingga badan terasa lemah tak berdaya, namun dalam lingkaran kecil yang tiap pekan kami lakukan memberiku motivasi yang seakan mendobrak semangat untuk berbuat yang lebih banyak, katakata itu seakan menyetrum aliran darahku hingga ia berdesir kencang, kata motivasi yang keluar dari seoarang wanita berumur duapuluh tahunan.
     Dia bercerita tentang hidupnya, bagaimana dia menjadlani hari-harinya, bagaimana kecemburuan dalam dirinya kepada orang lain untuk bisa menjadi yang terbaik seperti halnya orang lain, dia tidak cemburu karena materi yang diperoleh oleh orang lain tapi dia cemburu akan kesempatan orang lain untuk menambah keilmuan, pengalaman dan kecintaan kepada Allah sang pemilik hati.
Dia anak tunggal dari pasangan yang cukup protektif, sehingga  aktivitasnya begitu dibatasi, karena kehawatiran anaknya lelah, capek, setiap aktivitasnya harus diketahui oleh orang tuanya, siapa temannya, apa kegiatan semua harus terlist dalam daftar kontrol orang tuanya  namun demikian dia begitu dimanja oleh kedua orang tuanya.
     Hari itu dia bercerita bagaiamana perasaannya ketika dia berumur dua puluh tahun, tercatat sebagai pegawai honorer pada sebuah sekolah menengah di daerahnya, setiap hari dia harus berangkat lebih awal dari karyawan lainnya karena dia harus mencuci piring, menyapu lantai, merapikan meja, menyiapkan minum bagi karyawan-karyawati. Setelah para karyawan lainnya datang dia harus membantu administrasi, dimintai tolong ketik ini, antar ini dan itu dan banyak lagi tugas lainnya, , begitupun saat hari mulai sore karyawan lainnya sudah kembali ke rumah masing-masing namun dia tetap berjibaku dengan tumpukan piring, kotornya lantai dan berhamburannya