Rabu, 01 Februari 2017

*SELAMAT MENIKMATI CINTA BARU ANDA*

Tulisan ini saya copas dari group WA wonderfull Parenting (sudah izin kok) , biasanya saya hanya ngepost tulisan sendiri (walau tulisannya masih sangat sederhana pake bangat) tapi karena bagi saya, ini tulisan bisa menambah wawasan bagi pasangan suami istri agar bisa mengukur perjalanan rumah tangga yang telah dilalui dan mengantisipasi hadirmya perselisihan yang bisa membuka celah pertikaian dan hilangnya cinta diantara keduanya.   📝 Pemateri : *Ustadz Cahyadi Takariawan dan Ustadzah Ida Nur Laila*

*Tahap kehidupan berumah tangga:*

1. *Romantic Love*
Terjadi di masa awal pernikahan. Segala sesuatu tampak Indah pada diri pasangan. Kekurangan pasangan bukan suatu masalah. Pada tahap ini terbentuk mawaddah (Cinta yg menggebu). Masa ini biasa terjadi 3-5 tahun awal pernikahan.

2. *Distress / disappointment*
▶Segala sesuatu dapat dipermasalahkan. Hal kecil bisa menjadi masalah besar.
▶Pihak yang paling mendapat ketidakpuasan dalam pernikahan adalah istri, karena dominan perasaan. Padahal disaat istri marah, sebenarnya istri sedang mengeksplorasi perasaannya, bukan benar2 serius terhadap perkataannya. Saat istri marah sebenarnya hal yang perlu dilakukan suami adalah memeluknya, memberi waktu istri menumpahkan perasaannya. Jika sudah selesai, bisa dibicarakan baik2 apa harapannya juga harapan suami.
Struktur laki2 berpikir: GLOBAL, menangani data dan fakta.
Struktur perempuan berpikir : DETIL, mengeksplorasi perasaan.

Contoh dalam hal belanja. Suami cenderung cepat memilih baju, memutuskan membeli, membayar. Istri keliling 1 toko, ke toko lain, sampai keliling 1 mall. Pada saat memilih baju di antar toko, sebetulnya istri sedang memgeksplorasi perasaannya, ini yang sering sulit dimengerti suami. Dalam hal ini di luar negri setahap lebih maju, banyak mall didekatnya ada coffee shop, untuk tempat suami menunggu istri belanja (husband day care ☕🍪).
Jika bisa melalui tahap distress, beranjak ke tahap 3

3. *Knowledge dan awareness*
Dapat lebih mengenali pasangan lebih detil. Saling belajar mengenali pasangan. Mencoba memahami apa adanya. Berusaha mengenali pasangan dengan baik. Belajar membentuk keluarga sakinah.

4. *Transformation*
Menerima pasangan dengan tanggung jawab. Dapat menerima secara realitas diri pasangan.

5. *Real love*
Mencintai pasangan dengan sebenarnya. Pada tahap ini terbentuk Rahmah ( cinta yg mendalam).

Selasa, 27 September 2016

HSN 2016 BPS Bulungan "Kerja Nyata dengan Data"


 Sinar pagi ini tidak secerah biasanya, mentarinya bersembunyi dibalik awan hitam, menjadikan hari ini mendung, namun hal demikian tidak menghilangkan bahkan tidak mengurangi semangat kami untuk melaksanakan apel Hari Statistik Nasional 2016, dan hal ini dilaksanakan oleh seluruh insan BPS di seluruh penjuru Nusantara.
Tepat jam 08.00 Wita, kami merapikan barisan sesuai komando yang dipimimpin oleh sahabat kami Muhammadsyah.
“Pembina apel memasuki lapangan apel”

“Menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan Mars Statistik”  
Seluruh peserta apel menyanyi dengan semangat dipimpin oleh dirgen Tiara Kusuma Widiyaningrum, S.ST, agar pembaca tau bagaimana gambaran semangat Insan Statistik dalam mendedikasikan diri untuk negeri, jadi saya coba tulis disini ya...
Mars Statistik

Kami insan statistik
Penuh cita mengabdi
Untuk bangsa dan negara tercinta

Kami Profesional,
Kami Berintegritas
Kami Amanah
Itulah janji kami pada negri

Statistik untuk bangsa
Bangkitlah Indonesia
BPS terpercaya dalam data

Bangkitlah Indonesia
Majulah Indonesia
Siapkan dirimu putra bangsa
Berkarya dengan data
'Tuk Indonesia Jaya
Dengan data kita bangun negara

Bangkitlah statistik
Langkahkanlah tekadmu
Wahai putra bangsa yang tercinta
Berkarya dengan data
'Tuk Indonesia Jaya
Bergandeng tangan membangun
negara
 Bergandeng tangan membangun
negara


Protokol membaca lanjutan susunan acara
“Amanat pembina apel”
disampaikan oleh bapak kepala BPS Kab. Bulungan Maibu Barwis Sugiharto, S.ST, M.Si
Seluruh peserta apel diistirahtkan, dan pembina apel memulai arahannya, namun dalam arahan pembina, beliu hanya menyampaikan sambutan bapak kepala BPS RI, dalam sambutannya berisi:

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua

Uniknya Pawai Malam Lebaran di Ibukota Kalimantan Utara (Tanjung Selor)

Pawai Kapal Di Sungai Kayan


         Malam ini Tanjug Selor tidak seperti biasanya, ada yang berbeda dari malam malam sebelunya, warga mulai dari yang muda sampai tua berbondong bondong menuju siring (pinggir  sungai Kayan), tidak ada yang mau melewatkan momen yang unik yang diadakan sekali setahun, tepatnya pawai kapal di sungai Kayan pada malam lebaran Idul Adha.
         Keunikan  pawai seperti ini hanya bisa ditemukan di Tanjung Selor dan ini sudah bertahun tahun dilaksanakan. Tidak hanya unik, pawai ini membawa kita  mengagungkan Allah SWT, bahkan pawai ini membawa kita merasakan suasana beribadah di Tanah Suci Mekkah, bagaiman tidak kapal kapal pawai dihiasi dengan ornamen Arabian yang unik, membuat kotak hitam menyerupai Ka’bah sambil beberapa anak berputar dengan mengelilingi dengan menggunakan pakaian seperti jamaah haji yang sedang Tawaf. Diantara kapal kapal itu ada juga yang membawa bedug diiringi irama takbir, yang menghanyutkan perasaan dan tidak akan menyadari tetesan air akan keluar dari kelopak mata.
Lampu yang menghiasi kapal akan menyinari gelapnya malam dan pantulan cahaya dari air sungai Kayan begitu memanjakan mata seluruh warga Tanjung Selor yang ikut menyaksikan pawai ini. Saya yakin, kesedihan, keletihan, kegalauan hati  akan sejenak terbawa oleh derasnya arus sungai Kayan.
          Penasaran dengan keunikannya, silahkan berkunjung ke ibu kota Kalimantan Utara pada setiap malam tanggal 10 Dzulhijh (10 Arafah).

Tanjung Selor, 11 September 2016

Kamis, 15 September 2016

Sayyang Pattu’du Tradisi dari Tanah Mandar (Sulawesi Barat)



Mandar adalah salah satu suku yang mendiami pulau Sulawesi khusunya di Propinsi Sulawesi Barat,dimana di Propinsi Sulawesi Barat suku Mandar yang mendiami hampir 50% dari populasi penduduk Sulawesi Barat.
Sulawesi barat merupakan anak dari Sulawesi Selatan, dimana pada tahun 2014, Sulawesi Barat memutuskan untuk melepaskan diri dari induknya, berusaha berdiri sendiri. Sejak saat itu Sulawesi Barat mulai meniti langkah untuk berkembang dan maju.

Sayyang Pattu'du (Kuda Menari)
Mandar adalah suku yang memiliki tradisi yang tidak kalah dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia, diantaranya Sayyang pattu’du (hanya ada di Mandar), Parrawana (main rebana), pakkalindaqda, Perahu Sandeq.

Tradisi Sayyang Pattu'du atau "kuda menari" adalah tradisi syukuran terhadap anak-anak yang berhasil mengkhatamkan Alquran sebanyak 30 juz.
Parrawana (Pemain Rebana)
Syukuran itu dilakukan dalam bentuk arakan keliling kampung dengan menggunakan seekor kuda yang menari di bawah lantunan irama para pengiring Parrawana (tradisi memainkan rebana, Kegiatan ini dilakukan setiap ada acara pesta perkawinan ataupun khataman Alquran), selain iringan parrawana, akan terdengar juga kalindaqda (tradisi yang dilakukan orang Mandar berupa penyampaian perumpamaan saat hendak menyampaikan keinginannya kepada seseorang. Biasanya penyampaian itu berupa sindiran-sindiran yang bisa membuat lawan bicara tertegun. Kalindaqdaq juga terkadang bernuansa sebuah puisi, rayuan kepada wanita, dan bahkan terkadang juga berisikan motivasi atau semangat kepada pejuang pada masa perjuangan perebutan wilayah kekuasaan para raja di tanah Mandar).

Rabu, 26 Agustus 2015

Destinasi Wisata Propinsi Termudah di Indoneisa (Kalimantan Utara)



Selamat Datang di Ibu Kota Propinsi Kalimantan Utara
Sungai Kayan
Kalimantan Utara merupakan Propinsi termudah yang dimiliki Indonesia saat ini, yang letaknya berbatasan dengan Negara tetangga yaitu Malaysia.
Saat anda berkunjung ke Tanjung Selor ibu Kota Propinsi Kalimantan Utara, anda tidak ada mendapatkan sambutan ramainya kendaraan yang berlalu lalang, tingginya bangunan pencakar langit dan puluhan jembatan penyeberangan ataupun  jembatan layang, meski kalimantan Utara memiliki sungai yang tak terhitung jumlahnya,  Tapi anda akan disuguhi indahnya panoram alam dan tenangnya arus sungai Kayan, ditambah ramahnya penduduk yang mediami kota ini.
Sinar Jingga di sungai Kayan
Jika anda berangkat dari ibu kota Negara (Jakarta), pesawat akan menurunkan anda sampai di Kota Tarakan (Salah satu Kota di Kalimantan Utara), namun untuk sampai di Tanjung Selor ibu kota Kalimantan Utara   anda akan melintasi laut Kalimantan dan membelah sungai Kayan dengan menaiki Speed Boat. Dalam perjalanan anda akan disuguhi indahnya lukisan Sang Pencipta, pohon yang tertata rapi, selain itu anda akan menyaksikan  ibu-ibu yang mencuci pakain di pinggir sungai dan kebahagian anak-anak dalam menikmati asyiknya berenang bebas di pinggir sungai. Perjalanan dari Tarakan menuju Tanjung Selor ditempuh kurang lebih satu jam lima belas menit.
Sungai-Sungai di Tanjung Selor nampak dari ketinggian
Gunung Putih
Sebelum anda tiba di pelabuhan Kayan Dua, sebagai langkah awal menginjakan kaki di Tanjung Selor, diperjalanan anda akan disambut Gunung yang terlihat Putih (Gunung Kapur) yang tidak terlalu tinggi  juga tidak rendah. Untuk filosofi mengapa Gunung ini disebut Gunung Putih, mungkin karena gunungnya batunya Putih. Gunung putih juga merupakan nama salah satu Desa di Kecamatan Tanjung Palas. Jarak Gunung putih dengan Tanjung Selor  cukup dekat, hanya dengan menaiki perahu kayu (orang Tanjung Selor menyebutnya Tambangan), maka anda akan sampai di pelabuhan ibu Kota kecamatan Tanjung Palas. Dari pelabuhan Tanjung Palas untuk sampai ke Tempat wisata Gunung Putih  bisa jalan kaki jika anda seorang penikmat jalan sehat, tapi juga bisa naik ojek yang hanya bertarif lima ribu rupiah (masih bisa nego, he...).
Untuk sampai pada puncak Gunung Putih anda harus melewati puluhan anak tangga yang cukup menguras tenaga, diiringi suara-suara burung dan khas suara alam, ketika anda sampai pada puncak gunung dan merasakan hembusan angin Sungai Kayan serta menikmati Indahnya kota Tanjung Selor diengkapi aksesoris pohon-pohon nan ijo dan hamparan rumah penduduk, maka anda akan melupakan berapa banyak energi yang anda keluarkan untuk mencapai tempat ini, selain keindahan pemandangan di atas puncak Gunung anda juga bisa memasuki Gua.
Kesultanan Bulungan
Tidak jauh dari Gunung Putih anda bisa mengunjungi Museum Kesultanan Bulungan, disaat anda mulai memasuki MeseumKesultanan ini anda akan terbawa suasana pada kehidupan zaman dahulu, zaman perjuangan melawan penjajah. Anda akan mendapat banyak pelajaran dan hikmah dari koleksi-koleksi barang antik dan foto-foto yang tertata rapi diantaranya barang-barang peninggalan kerajaan tempo dulu, seperti singgasana Raja, tempat mandi maupun barang keperluan sultan sehari-sehari. Termasuk silsilah Para Sultan Bulungan yang pernah berkuasa.
Tugu Perdamaian
    Lima menit anda meninggalkan Pelabuhan Sungai Kayan anda akan mendapatkan sambutan hangat Tugu Perdamaian yang beridiri Kokoh yang terletak di Pertigaan Jalan Sabanar, Katamso dan Sengkawit. Tuguh ini dibangun sebagai simbol kehidupan yang damai antar Suku yang mendiami Kalimantan Utara Khususnya kota Tanjung Selor, dimana di Kota ini berbagai Suku melebur jadi satu dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda satu jua), terbukti pada ujung tuguh Perdamaian ini bertengkar patung yang menyerupai Burung Garuda.  Suku-suku yang mendiami Kota Kalimantan Utara antar lain Suku Bulungan, Dayak, Tidung ( Tiga Suku Pribumi yang biasa disingkat Bultiya), Bugis, Jawa, Banjar, Arab, Tinghoa, dan tak terlewatkan Suku Mandar (Suku yang terdapat di Propinsi Sulawesi Barat, kakak termudah dari Propinsi Kalimantan Utara).
Tugu perdamaian merupakan tempat nongkrong, tempat jogging  atau hanya sebagai tempat melepas kepenatan setelah seharian beraktifitas, karena suasana tugu perdamaian mampu mendamaikan hati yang sedang gundah, gelisah, kecewa, selain suasannya yang nyaman, damai, asri anda juga bisa menikmati Internet gratis yang disediakan Pemerintah Daerah Bulungan sambil menyantap jajanan jagung bakar keju, Gorengan, minuman buble, dan yang unik ice cream pot (beli ice cream dapat bonus pot bunga).

Jumat, 07 Agustus 2015

Episode Perantau



Sahabat-sahabat seperjuangan di Bulungan

Meski cap anak rantau sudah melekat beberapa tahun yang lalu, namun buku tulisan Salim A. Fillah baru kutemukan yang mampu menambah semangat untuk tetap kuat, tegar meski jauh dari orang-orang terkasih dan juga bertepatan dengan pindah tugasnya sahabat kami yang selama empat, lima tahun menjadi sahabat dalam menyelesaikan amanah-amanah Negara, serta menepati janjiku pada seorang sahabat Lidya Putri Utami (maaf buku pinjaman dari seorang teman, tak enak stapet, jadi Lidya Baca disini aja ya!!!!! he..)
Bismillahiroahmaniroahim
Membicarakan Mush’ab Ibn’ Umair yang berhijrah sebagai perintis jalan ke tanah iman Madinah, saya tiba-tiba ingin menyinggung sedikit tentang masalah merantau. Mungkin istilah hijrah terlalu mulia jika dipakai untuk mewakili kata “Merantau”. Kata itu begitu agung. Pada Rasulullah dan para sahabat hijrah adalah pengorbanan yang begitu megiris perasaan. Ini adalah perjalanan yang serba mengambang. Tanpa harapan, tak jelas kesudahan. Yang lemah dan terbiasa menderita tak tahu duka lara apa lagi yang akan mereka terima, apatah lagi yang biasa berkecukupan. Keluarga, rumah yang nyaman, tempat usaha yang prosfektif, semua harus ditinggalkan untuk mengejar ketidakjelasan. Apalagi Madinah bukan tempat yang menjanjikan.
Shuhaib ibn Sinan, imigran Romawi yang gemilang membangun usahanya di Makkah harus meninggalkan sukses yang ia bangun dari nol itu. Ia tak membawa apapun itu  ke Madinah, (Ingat status teman, H-1 ninggalin Bulungan, sedih senang dirasakan, setelah nehsemua dimulai lagi dari nol). Rombongan pengejar Quraisy mencegatnya hingga iapun berkata, “Jika kalian biarkan aku lewat, aku tak peduli lagi akan kalian apakah segala milikku. Itu semua menjadi hak kalian!” Komentar manusiawi ata peristiwa ini tentu berbunyi, “Shuhaib bangkrut!”. Tapi dimensi keimanan ternyata menyusun sebuah kalimat lain di lisan RasulNya yag berbunyi, “Rabiha Shuhaib…Shuhaib beruntung, Shuhaib beruntung!”.
Hijrah juga menyisipkan kisah keberanian tentang “Umar, yang berangkat dengan kata pamit berupa tantangan. Ia tidak seperti orang lain yang berangkat sembunyi-sembunyi. Setelah thawaf mengelilingi Ka’bah, ia berkata di hadapan peuka-pemuka Quraisy, saksikanlah oleh kalian bahwa Ibnul Khathtab akan berhijrah. Siapa yang ingin istrinya menjadi janda, anaknya menjadi yatim atau ibunya meratapi kematiannya, silahkan ia menemuiku sendiri di balik bukit ini!”.
Dibalik ketegaran mereka, Abu Bakar dan Bilal tetap saja Shock ketika tiba di Madinah, Demam tinggi membuat mereka merintih kesakitan. Homesickness, rindu rumah, tetap saja menjadi penyakit yang manusiawi. Abu Bakar pun bersyair,
Kala pagi,
Setiap orang bisa berkumpul dengan keluarga
Namun kematian lebih dekat dari tali
Ketika keberadaan itu disampaikan kepada Rasulullah, beliau pun berdoa, “Ya Allah, buatlah kami mencintai  Madinah ini seperti cinta kami pada Makkah atau lebih banyak lagi. Sebarkanlah kesehatan di Madinah, berkahilah ukuran dan timbangannya, singkirkan sakit demamnya, dan sisakanlah air padanya”.  (HR Bukhari 1/588-589)
Ya, Hijrah adalah pestasi agung generasi pertama ummat ini,. Dalam Al Qur’an, ia disebut Allah dalam kemuliaan dengan diapit dua kata lain yang agung; iman dan jihad. Sugguh jika membandingkan antara merantau yang kita lakukan dengan hijrahnya para sahabat, Ridwahwanullahi ‘Allaihim Jami’I’an. Sungguh tak pantas menjajarkannya. Tetapi Insya Allah, ada suatu hal yang senilai maknanya dalam hijrah yang senilai maknanya dalam hijrah dan merantau. Yakni niat dan upaya kita untu meraih kebaikan dan keberkahan yang lebih banyak.

Jumat, 19 Juni 2015

Aku dan Sahabat dalam Balutan Cahaya Senja


Senja
 Tak ada yang menampik akan keindahanmu
Pesonamu mampu menakjubkan hati pencintamu
Sentuhanmu meluluhkan jiwa yang lagi membenci
Ronamu melapangkan hati yang sempit
Sinarmu menenangkan hati yang gundah gelisah
Desiran angin yang membersamaimu membawa pergi jauh akan kepenatan
Senja, memang tak dapat kurai, tak dapat kugenggam
Tap iya mampu memberi makna dan rasa dalam jiwaku.

Sahabat ibarat Senja yang Indah
Senyumnya  mampu menenangkan hati yang gelisah
Lisannya mengingatkan akan kesyukuran Nikmat yang dianugerahkan Sang Pencipta kepada diri
Tatapannya melambungkan mimpi seindah Senja
Bersamanya ada rasa nyaman, ada kenikmatan iman
Ianya mampu menarik diri tatkala hendak terjatuh
Sahabat obat penawar tatkala rindu begitu membuncah
Sahabat bagai bara api yang mampu membakar semangat untuk melakukan perubahan diri dan memberi manfaat pada kehidupan

Sahabat
Doaku doamu dalam Lantunan Robitho semoga mampu mengikat jiwa kita yang tak hanya saat ini tapi nanti tat kala raga tak lagi bersua, tatapan tak lagi memandang.
Sahabat, semoga Allah memudahkan jalanmu dan jalanku untuk meraih mimpi kita,  
Sahabat, semoga persahabatn ini abadi hingga jiwa telah kembali kepada pemilikNya, dan semoga Allah memberi karunia untuk kita duduk di alun-alun SurgaNya dan bercerita tentang masa-masa yang terlewati bersama, Aamiin..


 Tanjung Selor, Kota Ibadah