Jumat, 07 Maret 2014

Resep Kue Onde-Onde Khas Ala Mandar


Onde-Onde hampir semua orang sudah mengenal penganan ini. Penganan yang biasa muncul di daerah Mandar, Sulawesi Barat, saat ada acara syukuran setelah mendapatkan barang yang baru. Bentuk syukuran kecil-kecilan atas hal "baru"  maka Anda akan dengan mudah menemukan penganan ini. Kadang orang-orang di Mandar akan berkata dengan nada sedikit bercanda "Inna Onde-Ondena?" (Mana Onde-Ondenya?) jika tahu bahwa ada hal yang baru kemudian tak menemukan penganan ini. 
Ilustrasi onde-Onde Ala Mandar
Ilustrasi Onde-Onde Ala Mandar
Foto : www.delicious-indonesian-cake.blogspot.com

Penganan ini secara umum di negara Indonesia dan Malaysia sangat terkenal, orang-orang Jawa biasa menyebutnya dengan nama  "Klepon". Penganan dari ketan yang berisi gula aren (gula merah) dengan konsistensi agak lunak atau sedikit encer, sangat lezat dinikmati sebagai cemilan saat pagi atau di sore hari. Secara umum Onde-Onde Mandar ini sama dengan onde-onde yang biasa dibuat, hanya saja saya memaparkan resep ala Mandar saja. Singkatnya onde-onde Mandar ini  terbuat dari tepung beras dan tepung ketan (agak berbeda dari bahan biasanya), atau tepung ketannya bisa diganti dengan tepung singkong, berisi gula aren cair, berbentuk bulat, direbus, lalu dibalut dengan parutan kelapa agak muda.
Kali ini saya akan sedikit memberikan resep kue onde-onde khas Mandar (resep saya peroleh dari seorang teman penggemar dunia kuliner Mandar, dan sering membuat penganan ini)
Bahan-bahan yang digunakan :
  • 150 gram tepung beras
  • 250 tepung ketan atao tpung singkong
  • Gula merah secukupnya
  • Kelapa parut (agak muda)
  • Air hangat secukupnya
Cara membuat :
Semua tepung d campur, brsama air sedikit demi sedikit, di uleni sampai bisa di bentuk bulat, tengahnya lalu di isi dengan potongan gula merah berbentuk dadu atau dengan ukuran sedang dan tidak terlalu besar. Kemudian didihkan air lalu rebus adonan hingga adonan bola-bola kecil ini mengapung. Setelah matang, angkat bola-bola kecil ini lalu balur dengan parutan kelapa stengah tua, boleh juga jika ingin kelapanya di kukus terlebih dahulu sebelum dibalurkan (hal ini untuk menjaga agar kelapanya tidak cepat basi). Setelah adonan bola-bola kecil ini dibalurkan kelapa maka ia siap untuk disajikan.

Jumat, 28 Februari 2014

Jepa, Gaya Pizza Ala Suku Mandar

Generasi muda Mandar kadang berkelakar dan membuat candaan bahwa Jepa memiliki kesamaan dengan Pizza. Entah mengapa seperti itu? mungkin salah satu upaya untuk memperkenalkan Jepa. Dari bentuk mungkin saja mirip tapi dari bahan utama, sangat berbeda Pizza menggunakan bahan dasar tepung sementara Jepa memakai ubi kayu atau singkong sebagai bahan pokoknya. 
Jepa Mandar
Jepa, kuliner Mandar yang terbuat dari bahan ubi kayu/singkong yang diparut dan diperas airnya
Photo Credit : Pusvawirna Natalia Mauchtar
Jepa, orang-orang dari suku Mandar biasa menyebutnya, kuliner populer sekelas "Bau Peapi " yang dikenal luas di masyarakat Sulawesi Barat dan menjadi salah satu ciri khas daerah ini. Ketika orang menyebut kata "Jepa" maka orang-orang akan menganalogikan ini dengan Mandar dan Sulawesi Barat, singkatnya ia telah menjadi maskot kuliner sudah sejak lama.
Jepa adalah makanan tradisional yang terbuat dari singkong atau ubi yang diparut terlebih dahulu kemudian diperas untuk menghilangkan kadar airnya dan kemudian diayak dan dicampurkan dengan parutan buah kelapa untuk memberinya rasa gurih dan nikmat. 
Jepa dapat dijadikan sebagai bahan makanan pokok, pengganti nasi karena kandungan karbohidratnya yang cukup tinggi, seperti yang selalu dijadikan bahan logistik oleh para nelayan Mandar saat melaut, dimana di laut lepas mereka membutuhkan bahan makanan yang dapat disajikan dengan cepat sebagai pengganti nasi. Pada beberapa orang yang telah berumur dan mengidap penyakit sistemik seperti Diabetes Melitus maka Jepa dapat dijadikan bahan makanan non nasi yang dikonsumsi saat makan siang dan makan malam. Kandungan karbohidratnya kurang lebih sama dengan yang dikandung oleh nasi.

Rabu, 11 September 2013

Katamu Kataku


KATAMU
Ia seperti cahaya
Berada di kejauhan
Gelap
Kecil, seolah tak terjangkau
Tetapi kedua mata kecilmu
Melihatnya
Kedua tanganmu merasainya
Lalu kedua kakimu menghafal
Tiap jejak-jejak jalan
Menuju kesana


KATAKU
Matanya indah
Tatapannya seolah selalu mengajak kebaikan
Lisannya seolah selalu menenangkan hati
Semangatnya bagaikan oase di padang pasir
Memberikan kepuasan bagi dahaga iman
Dia cantik namun selalu menundukan pandangan
Dia mempesona, tpi dia membungkusnya dengan iman

Rabu, 16 Januari 2013

Monas I'm Coming



Kriiiiiiiin, kriiiiiiiiing, kriiiiiiiiiiiiing…
Suara jam dinding yang berdiri bagai suara militer di sudut ruang tamu terdengar nyaring seakan ingin mengumumkan bahwa waktu menunjukan jam 00.00 WITA, namun  saya masih mondar mandir dari ruang tamu, ke dapur dan sesekali membaringkan diri di ruang keluarga sambil nonton acara TV yang tidak saya perhatikan nama acaranya.
Hampir tiap menit saya pencet perintah buka kunci hand phone  yang memang tidak lepas dari genggaman, Ah….belum ada kabar beritanya, padahal hari ini pengumuman kelulusan,
Apa mungkin saya tidak lulus ya? Sehingga tidak ada yang ngasih kabar, gumamku dalam hati.
Sesekali kuhubungi seseorang yang memang bisa dipercaya informasinya, namun jawabannya juga sama, nihil.
Pagi yang mengecewakan…..
Karena semalam tidurnya larut jadi bangunnya kesiangan,  kulihat hand phone di sampingku, ternyata low bat,  sayapun segera menuju ruang keluarga dan mencargernya. Karena masih sangat penasaran dengan pengumuman SPMB di salah satu  Sekolah Tinggi Kedinasan di Jakarta yang saya ikuti, hand phone yang batareinya baru  terisi satu buru-buru saya nyalakan, dan benar saja ada pesan pendek dari seseorang yang memang  saya kenal nomornya,
“jangan sedih ya dek…..
mungkin dengan kuliah di jakarta,
 bukan yang terbaik untuk saat ini, 
semoga next time, harapannya bisa terwujud, Aamiin…..”
Begitulah kira-kira smsnya, saya tak sadar air mata menetes, tanda kecewa, harapan-harapan itu kini hanya menjadi khayalan, harapan bisa menginjakan kaki di Ibu kota Negara, harapan bisa kuliah di PTK, harapan menikmati kota Jakarta dari atas Tugu Monas, harapan menyaksikan langsung apa yang hanya bisa dilihat di layar kaca, ah…semuanya kini tinggal harapan, desisku sambil menarik nafas penuh rasa kecewa.
Harapan itu datang menghampiri…
Hampir dua tahun telah berlalu, saat saya tengah membaca sebuah buku yang tadi siang saya pinjam di Perpustakaan Kampus, tiba-tiba terdengar suara hand phone, kupencet key warna ijo dan kudengar suara diujung telepon yang sangat  saya kenali,

Kamis, 13 Desember 2012

Teruslah Melangkah...!!!

Asa, lelah, letih, bosan, maka janganlah berfikir untuk kembali, istirahatlah sejenak, renggangkan otot-ototmu yang mulai menegang, freskan pikiranmu yang mulai kusut!!!!!
Istrahat dan berfikirlh untuk menghadirkan semangat baru dalam menempuh perjalanan yang panjang dan tidak tahu kapan akan sampai pada titik ujung.

Bisa saja engkau sampai pada ujung perjalanan ini, saat hembusan nafasmu yang terakhir berbaur dengan udara sekitarmu saat ini, bisa esok hari, pekan depan, bulan depan, tahun depan, beberapa tahun lagi atau sampai puluhan tahun lagi, entahlah.....???? tak seorangpun yang bisa menentukan kapan dan bagaimana akhir drama kehidupanya, namun yang pasti, setiap yang bernama mahluk hidup pasti akan bertemu dengan namanya kematian.
Semua orang menginginkan ending drama kehidupannya berakhir dengan baik dan penuh barokah, namun tidak banyak yang mengusahakan untuk itu dan hanya orang-orang yang yang berfikirlah yang akan senatiasa berusaha untuk mendapatkan akhir perjalanan di dunia ini yang penuh dengan keindahan.

Rabu, 21 November 2012

Tour To Dewata Island "Pulau Bali"


Matahari pagi perlahan namun pasti memperihatkan gagah dan merah sinarnya di ufuk timur, burung berkicau merdu, daun-daun menari-nari melantunkan dzikir pada Ilahi Robbi, kabut perlahan menghilang dengan datangnya sinar pagi, embun berjatuhan ke bumi meninggalkan dedaunan, di dalam ruangan kamar petak berukuran 5X4 M, keluar seorang gadis kecil yang hendak pergi travellling, dia hendak pergi tour ke Bali bersama beberapa teman dan janjian bertemu di Bandara Sepinggan Balikpapan.
Speed bout yang saya tumpangi perlahan tapi pasti berjalan membelah sungai Kayan, mengarungi lautan menuju Pulau Bumi Pakutaka, dimana Tarakan merupakan tempat Bandara Juwata, disanalah saya akan diterbangkan ke Balikpapan untuk bertemu teman lainnya.
Suara pesawat terbang dengan lambang singa berwarnah merah tampak terdengar kencang mendarat di Bandara Sepinggan, kedatangan pesawat disambut oleh petugas lapangan dan Pilot berusaha mencari tempat yang tepat untuk memarkir pesawat agar dapat mendarat dengan baik.  Para penumpang keluar secara tertib meski sebagian lagi tetap duduk di atas kursi pesawat karena mereka akan segera diterbangkan menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makasar, dan saya sendiri termasuk penumpang yang hanya sampai Balikpapan karena saya dan teman lainnya akan melanjutkan perjalanan dengan pesawat yang berbeda.
Sambil menikmati makan siang di salah satu restouran Bandara Sepinggan muncul seorang sahabat yang memang sudah janjian dengan saya, taksadar makanan sudah dari tadi telah habis dan jam sudah menunjukan angka 4 dan 12 itu artinya kami harus segera check in untuk melanjutkan perjalanan menuju Surabaya karena Neng Icha dan Mbak Lis menunggu kami di Bandara Juanda Surabaya untuk bersama-sama melanjutkan perjalanan menuju Pulau Dewata, Bali.

Senin, 12 November 2012

Semua Indah Pada Waktunya…………



“Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” QS. Ar-Rum (30):21.
        Jodoh adalah misteri Ilahi, tak seorangpun bisa menentukan dengan pasti dengan siapa dia akan dipasangkan dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, dan hal ini merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya, seperti dalam firman-Nya di atas, namun meski Allah telah menentukan jodoh setiap umat-Nya tapi semua harus diusahan untuk menunaikannya.
Istri yang sejati hanya akan didapatkan dari cara-cara yang syar’i. Alangkah keliru seseorang hanya karena tidak tahan dikatakan sebagai bujang lapuk atau perawan tua, lalu ia rela menikah dengan sembarang orang tanpa memperhatikan iman dan akhlaknya.

Dalam kondisi seperti ini, sebagai orang yang beriman dan percaya pada janji-janji Allah SWT, hal terbaik yang bisa kita lakukan selain berikhtiar adalah berdoa, bertahajud, bermunajat dalam keheningan malam, memohon kepada Allah SWT agar dipilihkan yang terbaik.

Sudah banyak contoh dalam kehidupan nyata, betapa sabar sungguh-sungguh menjadi penolong terdahsyat dalam kehidupan termasuk hal mencari jodoh. Mereka yang bersabar menjalani ketetapan Allah SWT, dengan belum dipertemukan jodohnya, namun tetap semangat beribadah dan beramal baik, pada akhirnya Allah mengirimkan kepada mereka pangeran tampan atau putri cantik sebagaimana yang mereka dambakan.